Setiap Tahun, Masyarakat Desa Larangan Pamekasan Lakukan Tradisi Rokat Jagung

  • Bagikan

RISALAH. PAMEKASAN – Masyarakat Desa Larangan Luar Pamekasan khususnya warga Dusun Buddagan menggelar tasyakkuran untuk panen jagung.

Tasyakuran panen jagung itu dikenal dengan sebutan Rokat Jegung bertempat di Kompleks Masjid Nurul Hidayah Sumber Cap-Cap. Jum’at, (13/01/2023).

Tokoh Agama setempat yang juga takmir Masjid Nurul Hidayah Sumber Cap-Cap Kiai Nawaril Mualim menjelaskan, bahwa arti Rokat Jegung sebenarnya istilah dari bahasa lokal yang merujuk pada tasyakuran/ selamatan untuk mensyukuri hasil panen jagung.

Baca Juga:  Sepanjang 2023, Restoran Pizza Hut Pamekasan Sumbang Pajak Rp. 600 Juta

“Istilah ini sebenarnya sudah dari dulu ya, dari pengesepuh kita yang dikhususkan pada selamatan ini, panen jagung,” jelasnya.

Kiai Mualim sapaan akrabnya melanjutkan, Rokat Jegung tersebut dilaksanakan setiap tahun sekali ketika panen jagung tiba. Dan tradisi tersebut sudah turun temurun dari dulu sampai sekarang.

“Sudah puluhan tahun tradisi Rokat Jegung dilestarikan dan dilanjutkan,” terangnya.

Baca Juga:  Polisi Perketat Pendistribusian Logistik Pemilu untuk 13 Kecamatan di Pamekasan

Sementara itu, Qaiyim Asy’ari salah satu tokoh pemuda yang juga berpartisipasi dalam kegiatan tersebut menuturkan, Tradisi Rokat Jegung menjadi rutinitas masyarakat Di Dusun Buddagan Desa Larangan Luar Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan saat jagung akan tiba panen.

Pria yang menjabat sebagai ketua HIPMI Kabupaten Pamekasan tersebut menambahkan, tujuannya rokat itu untuk mensyukuri nikmat tuhan dan memohon keselamatan baik dunia maupun akhirat.

Baca Juga:  Telan Ratusan Miliar, Pembangunan RS Muhammad Noer Pamekasan Dituding Tak Sesuai Spek

“Ada dua poin pada hakekatnya dalam pelaksanaan tradisi rokat jegung, Pertama, kita mensyukuri nikmat tuhan karena telah panen, kedua memohon keselamatan fiddunya wal akhirat”. pungkasnya.

Sekadar informasi, dalam praktek tradisional rokat jegung ini masyarakat sekitar membawa hasil dari sebagian panen jagung yang sudah matang. Kemudian direbus atau dibakar untuk dibawa ke masjid dan melakukan istighotsah bersama setelah pelaksanaan shalat Jum’at.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *